Kamis, 05 Februari 2009

LIBERALISME

I.PENGERTIAN LIBERALISME MENURUT INTERNET

Liberalisme adalah sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan adalah nilai politik yang utama.

Secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu. Paham liberalisme menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama. Liberalisme menghendaki adanya, pertukaran gagasan yang bebas, ekonomi pasar yang mendukung usaha pribadi (private enterprise) yang relatif bebas, dan suatu sistem pemerintahan yang transparan, dan menolak adanya pembatasan terhadap pemilikan individu. Oleh karena itu paham liberalisme lebih lanjut menjadi dasar bagi tumbuhnya kapitalisme.

Dalam masyarakat modern, liberalisme akan dapat tumbuh dalam sistem demokrasi, hal ini dikarenakan keduanya sama-sama mendasarkan kebebasan mayoritas.

Liberalisme dan Agama
Pandangan-pandangan liberalisme dengan paham agama seringkali berbenturan karena liberalisme menghendaki penisbian dari semua tata nilai, bahkan dari agama sekalipun. meski dalam prakteknya berbeda-beda di setiap negara, tetapi secara umum liberalisme menganggap agama adalah pengekangan terhadap potensi akal manusia.

II.PENGERTIAN LIBERALISME MENURUT BUKU
Liberalisme merupakan paham yang mengutamakan kemerdekaan.Kemerdekaan macam apakah yangt diutamakan?,kemerdekaan individu merupakan pokok utama paham ini.


III.PENGERTIAN LIBERALISME MENURUT TOKOH
Liberalisme adalah paham yang mengutamakan kemerdekaan/kebebasan individu.

IV.PENGERTIAN LIBERALISME MENURUT KELOMPOK
Liberalisme adalah Suatu paham yang mengutamakan kemerdekaan individu atau kebebasan individu masyarakat sebab dalam alam kebebasan ini masyarakat dapat berkembang dan berupaya meningkatkan kesejahteraan hidupnya.

V.SEJARAH ,PERKEMBANGAN, DAN FAKTOR PENYEBAB LIBERALISME
Liberalisme berkembang sangat pesat di kota-kota besar eropa.Para pendukung utamanya adala kaum borjuis dan kaum terpelajar kota.Basis pendukungnya tidak hanya berasal dari satu daerah/satu bangsa,tetapi sangat luas di berbagai kota besar eropa sehingga aliran liberalisme tidak memiliki ikatan kuat.Unsur fanatisme kekeluargaan/adat kebiasaan daerah melebur dalam kelompok.Kehidupan masyarakat kota yang bebas dan keras mendorong mereka untuk memikirkan keperluan sendiri dan bersaing ketat satu dengan yang lainnya.Peranan kaum borjuis semakin besar setelah industri dan perdagangannya menjadi mata pencaharian penting.
Kaum liberal menentang setiap tindakan yang dianggap menekan kebebasan individu. Di inggris kebebasan individu akhirnya di jamin dengan di keluarkan " Magna Charta " pada tahun 1215.Isi piagam itu antara lain bahwa seseorang (terkecuali busak ) tidak boleh di tangkap, di penjara, disiksa, diasingkan atau disita miliknya tanpa cukup alasan menurut hukum.
Di Prancis dan negara-negara monarki absolut lain, kebebasan individu sangat dikekang sehingga menimbulkan revolusi (1789, 1830, 1848). Kaum borjuis yang memimpin revolusi akhirnya mengalahkan kaum bangasawan dan ulama yang sebelumnya memegang kekuasaan dalam bidang politik, ekonomi, maupun kehidupan sosial. Setelah revolusi meluas di seluruh daratan eropa tahun 1848, paham liberal berkembang pesat. Setelah itu liberalisme berkembang ke seluruh dunia sebagai salah satu pandangan hidup ( Way of life ).
Secara universal paham liberalisme berkembang sangat menonjol dalam bidang politik,agama, dan pers.Dalam bidang politik paham liberal berpengaruh terhadap perkembangan paham demokrasi dan nasionalisme.Masyarakat yang mempunyai hak untuk menentukan segala kepentingan masyarakat.Hak menentukan itu diwujudkan dalam sistem demokrasi liberal dan akhirnya melahirkan parlemen sebagai lembaga pemerintah rakyat.Untuk memilih para anggota parlemen diadakan pemilu.Dalam pemilu setiap orang memberikan satu suara.Dalam pemilu terjadi persaingan mencari kekuasaan politik.Dengan menjadi anggota parlemen seseorang anggota mempunyai penagruh dalam menetapkan undang-undang atau jatuh bangunnya kabinet yang sedang memerintah.


VI.CIRI-CIRI LIBERALISME
Ciri-ciri ideologi liberal sebagai berikut :
•Pertama, demokrasi merupakan bentuk pemerintahan yang lebih baik.
•Kedua, anggota masyarakat memiliki kebebasan intelektual penuh, termasuk kebebasan berbicara, kebebasan beragama dan kebebasan pers.
•Ketiga, pemerintah hanya mengatur kehidupan masyarakat secara terbatas. Keputusan yang dibuat hanya sedikit untuk rakyat sehingga rakyat dapat belajar membuat keputusan untuk diri sendiri.
•Keempat, kekuasaan dari seseorang terhadap orang lain merupakan hal yang buruk. Oleh karena itu, pemerintahan dijalankan sedemikian rupa sehingga penyalahgunaan kekuasaan dapat dicegah. Pendek kata, kekuasaan dicurigai sebagai hal yang cenderung disalahgunakan, dan karena itu, sejauh mungkin dibatasi.
•Kelima, suatu masyarakat dikatakan berbahagia apabila setiap individu atau sebagian besar individu berbahagia. Walau masyarakat secara keseluruhan berbahagia, kebahagian sebagian besar individu belum tentu maksimal. Dengan demikian, kebaikan suatu masyarakat atau rezim diukur dari seberapa tinggi indivivu berhasil mengembangkan kemampuan-kemampuan dan bakat-bakatnya. Ideologi liberalisme ini dianut di Inggris dan koloni-koloninya termasuk Amerika Serikat.

VII.DAMPAK-DAMPAK LIBERALISME

*Dampak Negatif

Karena liberalisme merupakan paham yang bebas nilai, maka jelas sangat berpengaruh pada tatanan kemasyarakatan dan prilaku manusia. Karena dalam paham liberal itu tidak ada kebenaran mutlak yang ada adalah kebenaran yang relatif. Norma baik dan buruk menjadi sangat tergantung kepada pelakunya karena setiap manusia memiliki hak kebebasan individu yang tidak bisa digugat oleh individu yang lain. Terjadinya fenomena kemasyarakatan secara sosiologis tidak dapat dilepaskan dari pola pikir dan budaya masyarakat yang sudah terjangkiti oleh patologi sosial. Prilaku – prilaku amoral yang dipertontonkan dan yang dilakukan oleh sebagian masyarakat terutama sebagian besarnya adalah remaja tak lepas dari alasan kebebasan individu dan kebebasan ekspresi. Fenomena pornoaksi dan pornografi, tarian erotis di pentas panggung dengan mempertontonkan aurat, adegan-adegan film tidak senonoh, prilaku seks menyimpang seperti sodomi, homoseksual dan lesbian, malah sekarang sedang trend membudaya, yaitu perselingkuhan dan seks bebas yang ironisnya hal tersebut dikonsumsi publik melalui media, baik itu media massa ataupun visual. Bahkan fenomena perselingkuhan dan kawin cerai dipertontonkan oleh oknum para artis yang kadang dijadikan figur dan tontonan yang prilakunya diikuti oleh para fans-nya, melalui tayangan infotainment. Fenomena tersebut mencerminkan dari dampak liberalisme itu, karena mereka berdalih bahwa prilaku itu dilakukan sebagai kebebasan individu dan kebebasan ekspresi seseorang atau mereka menyebut sebagai ruang privat (privasi seseorang).

Masyarakat tidak sadar tentang bahaya liberalisme ini sangat berdampak pada pranata sosial dan akar budaya setempat, sehingga menimbulkan prilaku – prilaku negatif yang sangat eskalatif dan massif di masyarakat. Tingkat kriminalitas semakin meningkat dan prilaku – prilaku masyarakat yang menyimpang dari norma – norma sosial budaya dan agama semakin variatif bentuknya, variatif eksesnya dan variatif pula modusnya seiring perkembangan jaman dan kecanggihan teknologi. Akibat tatanan masyarakat seperti itu maka interaksi budaya menjadi sangat longgar, sedangkan agama hanya digunakan pada saat – saat ritual ceremonial yang dianggap sakral saja, dan kuatnya pemikiran sekularistik di masyarakat dimana agama dianggap sebagai urusan privat yang tidak terkait dengan urusan negara dan duniawi, hal ini mencerminkan begitu hegemoniknya liberalisme di Indonesia.

Maka tidaklah heran kalau kemudian dalam masalah agama ini, muncul praktek – praktek keagamaan yang menyimpang dari ajaran aslinya, maraknya aliran sesat, maraknya kyai gadungan yang berdalih pesantren tetapi melakukan prilaku menyimpang, sudah sulitnya dibedakan antara kyai/ajengan/ustadz dengan prilaku dukun/kahin/paranormal. Variatifnya bentuk, modus dan ekses dari kesesatan dalam keberagamaan ini akhirnya melahirkan reaksi negatif masyarakat, maka terjadilah konflik horizontal. Dalam masalah sosial, maraknya perjudian, yang tak lepas dari sistem kapitalistik dimana para pemegang capital (Bandar) menjadi dalang utama maraknya perjudian. Tingginya tingkat kesenjangan ekonomi juga sangat dipengaruhi oleh liberalisasi ekonomi dengan sistem kapitalistiknya itu, dimana si pemiliki modal sangat besar pengaruhnya dan memiliki kekuatan untuk bertindak apapun, sehingga perputaran uang hanya bergulir di lingkaran para pemilik modal saja, akibatnya tingkat kemiskinan masyarakat meningkat hingga kini Indonesia mencapai 14 juta penduduk miskin, sehingga melahirkan rawan daya beli dan meningkatnya jumlah penduduk yang kesehatannya buruk, yang menimbulkan maraklah berbagai macam penyakit, seperti marasmus (busung lapar), DBD, polio, lepra, diare, gangguan pernapasan, dll.

*Dampak Positif

Pemerintah harus membebaskan mekanisme pasar bekerja, harus melakukan deregulasi dengan mengurangi restriksi (hambatan) pada proses produksi, mencabut semua rintangan birokratis perdagangan, ataupun menghilangkan tarif bagi perdagangan demi menjamin terwujudnya free trade. Perdagangan dan persaingan bebas adalah cara terbaik bagi ekonomi nasional untuk berkembang. Dengan demikian, liberalisme di sini berkonotasi bebas dari kontrol pemerintah, atau kebebasan inidividu untuk menjalankan persaingan bebas, termasuk kebebasan bagi kaum kapitalis untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar